Antara Adat Budaya, Keinginan dan Uang

Akhirnya setelah sekian lama merencanakan pernikahan dan selalu gagal (ahahahak), akhirnya tanggal 10 November 2012 yang lalu saya resmi menikah dengan belahan jiwa saya.. huhuuuuy….. Sangat melelahkan memang, mengingat rangkaian acara pernikahan yang saya jalani adalah pernikahan adat Nias.

Ketika saya merencanakan melangsungkan pernikahan secara adat suku saya yaitu Nias, beberapa dari sahabat-sahabat saya heran dan bertanya mengapa saya tidak melangsungkan pernikahan dengan resepsi Internasional yang notabene lebih simpel dan memakan biaya lebih sedikit, ketimbang melangsungkan pernikahan secara adat Nias yang terkenal dengan biaya yang sangat tinggi serta waktu pelaksanaan yang sangat lama mengingat tahap-tahap adat yang begitu banyak.

Jika diakumulasikan, rangkaian adat pernikahanku dilaksanakan dalam waktu sekitar 5 bulan… namun puncak pelaksanaan acara utamanya berjalan dalam waktu hampir 3 minggu non-stop. Begitu melelahkan bukan ? bayangkan jika mengadakan pesta pernikahan dengan konsep internasional yang hanya memakan waktu yang tidak begitu lama.

Famee Bola merupakan salah satu prosesi penting dalam pelaksanaan pernikahan secara adat Nias

Mengenai biaya juga sangat-sangat mengagetkan dan memang membuat ngeri banyak Pemuda Nias sehingga banyak yang memilih untuk kawin di luar Nias. Puluhan hingga ratusan juta rupiah bisa dihabiskan dalam pelaksanaan sebuah pesta pernikahan adat Nias. Mengerikan bukan ?

Walaupun demikian, saya lebih memilih tetap menjalani prosesi pernikahan secara adat Nias, bukan karena saya banyak uang namun karena saya memang menginginkan pernikahan yang saya jalani bisa “membahagiakan” banyak orang.

Famaena merupakan atraksi kebudayaan yang selalu ditampilkan dalam sebuah pesta pernikahan adat Nias

Sebenarnya saya ingin menikah dengan cara yang simpel dan tidak memerlukan biaya yang banyak, mengingat penghasilan yang pas-pasan. Namun, sebagai anak Nias saya juga tidak bisa melupakan budaya nenek moyang saya. Memang pernikahan secara adat Nias terkenal dengan biaya yang sangat tinggi. Namun sebenarnya di masa sekarang telah mulai disederhanakan sehingga banyak biaya-biaya dan tahapan yang tidak begitu mendasar sudah mulai dihilangkan.

Meskipun pada awalnya saya berpikir bahwa pelaksanaan pernikahan secara adat Nias sangatlah membuang-buang banyak waktu dan biaya, namun setelah menjalaninya, saya justru menyadari makna yang terlahir dari rangkaian acara pernikahan secara adat Nias

Makna positif yang paling penting yang saya dapatkan adalah, karena besarnya biaya dan begitu melelahkannya rangkaian acara pernikahan maka seorang laki-laki akan berpikir panjang jika hendak melangsungkan pernikahan. Sehingga ketika sudah menikah, seorang laki-laki akan lebih menghargai sebuah pernikahan dan tidak akan mudah membiarkan rumah tangganya hancur, mengingat begitu susahnya untuk menikah. Karena alasan ini jugalah, sangat sedikit keluarga di Nias yang terpisahkan oleh perceraian.

Negara kita Indonesia memiliki banyak suku dengan berbagai adat budaya yang merupakan warisan nenek moyang kita. Namun, semakin hari adat budaya asli Indonesia semakin tesingkirkan oleh budaya asing baik dari dunia belahan Timur maupun dari belahan dunia Barat hanya karena alasan Agama, teknologi maupun alasan kepraktisan. Haruskah kita membiarkan budaya kita tergusur dan bisa saja menghilang?

Mungkin alasan tersebutlah saya memilih melangsungkan salah satu peristiwa penting dalam hidup saya melalui sebuah prosesi adat. Harapan saya, ketika pelaksanaan pernikahan saya beberapa hari yang lalu, puluhan bahkan ratusan orang akan tahu rangkaian budaya adat pernikahan suku Nias yang merupakan bagian dari budaya yang dimiliki oleh negeri kita tercinta yang harus terus kita lestarikan. Inilah aksiku untuk Indonesiaku.

Jangan lupa komen dan SHARE-nya ea… ^_^

Comments

comments

8 comments

  1. Nugraha says:

    Wew.. selamat mas Zal (panggilan saya ke mas Zalukhu dari dulu).. maaf baru berkunjung lagi ke sini. Saya teh urang Bandung tea. Ingat waktu dulu mas Zal datang ke Bandung, nengok mas Hakimtea ketika istrinya melahirkan, saya gak jadi ketemu mas Zal karena hujan + hari kerja. Ya deh semoga berbahagia selalu.

  2. agus ramdani says:

    Congratulation masbro!! Semoga jodohnya panjang dan di karuniai putra/putri yang sholeh/soliha. Yang jelas kita harus memaknai bahwa pernikahan hanya terjadi dalam sekali seumur hidup kita. Tapi…. kalo punya dana lebih, kan di sunahkan 2 atau 3 kali. hehe…

  3. paykamseu says:

    wah akhirnya melepas masa bujang juga ya? ::SELAMAT::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Switch to our mobile site